B e g a m b a n g

Oleh : Marterinus, SH

Gambang/begambang merupakan seni tradisional suku dayak beriam. Orang beriam (suku Dayak beriam) biasa memainkan alat musik ini ketika sedang sendirian atau sebatas menghibur diri, sehingga gambang/begambang seniri tidak begitu popular dimainkan oleh anak-anak muda bahkan orang dewasa sekalipun. Sebagian anak muda suku dayak beriam yang bisa memainkan alat musik gambang rata-rata karena orang tua mereka pandai memainkan alat musik ini dan terampil. Salah satu anak muda suku dayak beriam yang bisa dikatakan sangat terampil memainkan alat musik gambang/begampang adalah Puni (Sarponi Efendi) dan beberapa orang lainnya seperti Pian, Gatui, Dami, Haran, Dundut, Tawex.

Tidak adanya kegemaran anak muda suku dayak beriam memainkan alat musik gambang disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya karena tidak adanya pusat pelatihan & pengembangan kebudayaan yang ada di beriam selain itu karena masih kurangnya kesadaran anak muda suku dayak berim untuk mengembangkan kebudayaan yang mereka miliki dan tidak adanya tenaga pengajar yang terampil untuk membantu anak-anak muda ini untuk belajar. Namun faktor utamanya adalah karena masih rendahnya kesadarn anak muda dayak beriam untuk melestarikan & menjaga kebudayaan mereka.

Jika saya perhatikan, sebenarnya, mereka cukup memiliki kepedulian untuk melestarikan kebudayan/bermain gambang tetapi kadang kala hal ini sulit untuk dilakukan karena masyarakatnya sendiri menganggap hal semacam ini adalah hal yang biasa-biasa saja sehingga seolah apa yang mereka lakukan tidak bermanfaat atau memiliki manfaat apa-apa. Untuk itu, menurut saya, yang lebih diutamakan sekarang adalah mendorong mereka untuk lebih aktif salah satunya dengan mengadakan lomba atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengarah pada usaha untuk terus melestarikan kebudayaan yang mereka miliki.

Peranan lain yang juga tidak boleh dilepaskan adalah adanya peran serta dari warga masyarakat, pemda, para mahasiswa dan aktivis perjuangan generasi muda dayak sendiri untuk mendorong tumbuhnya semangat mencintai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap tradisi itu sehingga mereka semua benar-benar merasa diperhatikan dan dihargai kemampuannya baik dari aspek bermusik maupun dari usaha mereka untuk mempertahankan kebudayan tersebut

Kecendrungan lain yang mungkin menimbulkan sikab apatis generasi muda dayak beriam untuk mengembangkan nilai-nilai budaya di daerah itu karena adanya perasaan minder atau semacam perasaan “gengsi” jika mereka terus mempertahankan nilai-nilai yang bagi mereka sudah tidak pantas lagi pada situasi saat ini sehingga kesibukan kadang dijadikan alasan untuk tidak bisa melakukan kegiatan tsb.