MASALAH PENDIDIKAN GENERASI DAYAK PEDALAMAN

Oleh : Nistain odop
Apa yang membedakan cara berpikir orang Dayak perkotaan dengan orang Dayak yang tinggal dipedalaman jika ditanya masalah pendidikan? Jawabannya sederhana saja, mayoritas orang Dayak perkotaan akan mengutamakan pendidikan anaknya sementara orang Dayak dipedalaman adalah sebaliknya. Percaya atau tidak kenyataan berbicara demikian. Dikota bisa dikatakan bahwa dari sepuluh anak Dayak, sembilan orang pasti merasakan pendidikan setidaknya hingga SMU. Dikampung terutama yang bukan termasuk dalam kota kecamatan kenyataan terbalik, hanya satu orang anak Dayak yang bersekolah hingga SMU dari sepuluh anak muda seumurnya. Bahkan mungkin hanya satu dari 50 anak muda Dayak yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi (terutama kasus dikampung-kampung paling pedalaman).

Apakah kenyataan ini bisa diklaim sebagai sebuah gambaran sesungguhnya? Tentu saja tidak karena ini bukanlah hasil penelitian atau hasil survey, namun saya bisa katakan ini menjadi sebuah gambaran yang membuat kepala kita berpikir dua kali akan kemanakah masa depan generasi Dayak dipedalaman.

Saya tidak perlu jauh-jauh mencari gambaran kenyataan ini. Dikampung tetangga saya banyak anak muda Dayak yang tidak mengenyam pendidikan hingga bangku SMP. Saya tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Secara ekonomi banyak keluarga yang mampu, mereka punya kendaraan bermotor, televisi, usaha dagang, bahkan ada yang memiliki kendaraan roda enam seperti truk. Ketika jaringan telekomunikasi masuk kampung, mereka menenteng HP yang cukup mahal, telpon sana sini tak tentu karuan. Tapi tidak satupun dari anak-anak mereka yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Ada kasus begini: CU dipedalaman sering membuka kesempatan pada awal tahun ajaran bagi masyarakat anggotanya untuk meminjam uang dari lembaga. Dengan catatan jika digunakan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, beberapa masyarakat anggota segera memanfaatkan program ini, tetapi keanehan terjadi, meminjam uang bukan untuk kepentingan pendidikan anaknya melainkan untuk membeli barang-barang elektronik yang sebetulnya tidak penting. Alhasil, anak-anak mereka tidak bisa mengenyam pendidikan seperti yang direncanakan pada saat meminjam dana tadi karena dana tersebut telah dipakai untuk hal yang tidak seharusnya.

Bagi saya yang berasal dari kampung kecil dengan tingkat perekonomian keluarga yang pas-pasan, pendidikan adalah sebuah investasi yang tidak ternilai, dan orang tua saya sangat mementingkan hal itu. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha menyekolahkan kami hingga keperguruan tinggi.

Dikampung lain juga banyak gambaran seperti yang saya ulas tadi. Mereka secara ekonomi kuat untuk mendukung anaknya bersekolah namun pola pikir mereka terbalik. Sementara orang Dayak perkotaan mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi, orang Dayak dipedalaman banyak yang berpikir sebaliknya. Bagi mereka yang menyadari pentingnya pendidikan mereka akan berusaha memberikan yang terbaik bagi pendidikan anaknya.

Banyak orang Dayak yang pindah keperkotaan karena mereka ingin melakukan perubahan hidup. Dari situ mereka membangun keluarga Dayak baru dan membentuk sebuah kekuatan ekonomi dan intelektual. Mereka keluar dari kampung halamanya dan hidup ditanah orang lain, mencari jalan hidup yang lebih baik dan pada akhirnya mereka memperolehnya.

Pendidikan memberikan sebuah kesempatan untuk hidup lebih baik dan memberikan jalan untuk melakukan perubahan. Investasi dalam hal pendidikan sangat tidak ternilai, mencari pendidikan adalah mecari ilmu, mencari jalan menuju kehidupan yang lebih baik, untuk itu jangan pernah menyepelekan arti pendidikan.

Berikan dorongan yang maksimal kepada anak-anak muda Dayak untuk merasakan pendidikan yang lebih tingggi, beri mereka kesempatan untuk menimba ilmu. Hidup memang terkadang susah, namun ada cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan tujuan itu. Bantulah mendorong pola pikir masyarakat Dayak pedalaman untuk lebih mementingkan pendidikan bagi anak -anak mereka demi perubahan yang lebih berarti.